Iman kepada Rasul-Rasul Allah

Hajat Manusia kepada Rasul-Rasul Allah

  1. Tanpa risalah, manusia tidak bisa mengenal tuhan-nya (Allah سبحانه وتعالى).
  2. Tanpa risalah, manusia tidak akan mengetahui alam ghoib seperti alam barzakh, padang mahsyar, surga, dll.
  3. Tanpa risalah, manusia tidak akan mengetahui tujuan hidupnya.
  4. Tanpa risalah, manusia tidak bisa menentukan undang-undang atau sistem hidup yang benar dan tepat serta menjamin terealisasinya keadilan dan persamaan hak. Faktor yang tidak dimiliki manusia:
    1. Ilmu pengetahuan sempurna mengenai tabiat manusia dan alam sekitarnya.
    2. Ilmu pengetahuan sempurna akan keadaan masa lalu, sekarang, dan akan datang dari jenis manusia.
    3. Konsisten dan konsekuen dengan ajaran Allah tanpa dipengaruhi kepentingan pribadi.

Definisi Nabi / Rasul

  • Lughoh: yaitu nabwah (tempat yang tinggi) atau naba-a (berita), rasul dari kata arsala (mengutus).
  • Istilah: yaitu manusia biasa, laki-laki yang dipilih oleh Allah jalla wa ‘alaa untuk menerima wahyu agar disampaikan pada umatnya sekaligus mengamalkannya.

 Dari Abu Dzar r.a. ia berkata: Aku bertanya, “Ya Rasulullah berapakah jumlah Nabi ?”, Rasul menjawab: “124.000 dan dari jumlah tersebut ada 315 Rasul”. HR Ahmad.

Tugas Para Rasul

  1. Menyampaikan (التبليغ)
    1. Mengenal pencipta alam semesta ini dan sifat-sifatNya (معرفت الخالق).
    2. Mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah (توحيدالله).
    3. Memberi kabar gembira dan ancaman (البشير و النذير).
    4. Sebagai hujjah atas manusia (حجة لالناس).
    5. Menunjukkan manusia jalan yang lurus (الهادي إلى الصراط المستفيم).
  2. Mendidik dan membimbing (التربية)
    1. Memperbaiki jiwa dan membersihkan serta meluruskannya dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela (التزكية).
    2. Meluruskan aqidah / ideologi serta firqoh yang menyimpang dari Islam (التفويم).
    3. Memimpin umat dengan menjalankan metode ilahi dan sistem rabbani (إفامة الدين).

Ciri Nabi dan Rasul

  1. Memiliki sifat-sifat dasar: siddiq, amanah, tabligh, fathonah (jujur, terpercaya, menyampaikan, cerdas).
  2. Memiliki mu’jizat.
  3. Memiliki nubu’at (berita-berita masa depan).
  4. Bisyarot – بشراة (ada berita dari kitab sebelumnya).
  5. Tsamarot – ثمراة (ada hasil yang dicapai).
  6. Keteladanan (المثالية).
  7. Keturunan yang mulia (شرف النسب).
  8. Dibutuhkan zaman (عمل الزمان).

ٌRasul-rasul Ulul ‘Azmi (Muhammad, ‘Isa, Musa, Ibrahim, Nuh)

Al-Ahqaf: 35 … فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Ulul ‘azmi maksudnya teguh hati, sabar, segala cita-cita dikejar dengan segenap tenaga yang dimiliki hingga akhirnya tercapai juga. Rasul-rasul ulul ‘azmi adalah pada Rasul yang paling banyak mendapat tantangan, penderitaan, tapi mereka tetap teguh, sabar, dan terus berjuang hingga mereka berhasil mengemban tugas yang dipikulkan oleh Allah subhaanahu wata’aala.

Ciri Khas Risalah Nabi Muhammad صلی الله عليه وسلم

  • Penutup seluruh risalah sebelumnya (Al-Ahzab: 40) … وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
  • Mengajak untuk beriman kepada risalah yang dibawa nabi-nabi sebelumnya (Al-Baqarah: 136) … وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ
  • Universal untuk seluruh umat manusia (Al-Anbiya: 107) … وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
  • Lengkap mencakup seluruh aspek kehidupan manusia (Al-An’am: 38) … إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
  • Memiliki metode berfikir yang obyektif
    • Meninggalkan taqlid buta dan warisan-warisan yang menyimpang yang tidak ada dasarnya (Al-Baqarah: 170) …
    • Tidak mengikuti suatu pemikiran sebelum diteliti kebenarannya dan relevan dengan akal sehat dan lurus, sebab penglihatan, pendengaran, dan akal pikiran akan diminta pertanggung-jawabannya (Al-Israa: 36)
    • Memperhatikan setiap urusan dengan penalaran akal sehat serta tidak mengambil suatu sikap yang terdorong oleh hawa nafsu (Saba’: 46)

Makna Syahadat “Muhammad Rasulullah”

  1. Membenarkan setiap apa yang beliau kabarkan (An-Najm: 3-4) … وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
  2. Mentaati apa yang diperintahkan (An-Nisaa: 59) … وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
  3. Menjauhi apa yang beliau larang (Al-Hasyr: 7) … وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
  4. Beribadah sesuai dengan syariatnya (Al-Kahfi: 110) … فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا