Macam-Macam Ahli Waris

Ahli waris ada dua macam, yaitu:

1. Ahli Fardlu, yaitu ahli waris yang mendapatkan warisan dengan ketentuan yang disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu ½, , ¼, ⅛, 1/6, 1/8, dan 2/3.

2. Ahli Ta’shib (ashabah), yaitu ahli waris yang mendapatkan sisa warisan dari ahli fardlu bila ada sisa, jika tidak ada sisa maka ia tidak mendapatkan apa-apa.

Terdapat empat keadaan dari macam ahli waris tersebut dilihat dari fardlu dan ta’shib-nya, berikut ini adalah penjelasannya:

Pertama, yaitu kelompok ahli waris yang menerima sisa harta warisan setelah dibagikan kepada ahli fardlu. Bahkan, jika ternyata tidak ada ahli fardlu serta ahli waris lainnya, ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. Begitu juga, jika harta waris yang ada sudah habis dibagikan kepada ahli fardlu, maka merekapun tidak mendapat bagian. Mereka berjumlah dua belas, yaitu sepuluh dari kerabat yang merupakan kerabat pewaris berdasarkan silsilah keluarga dari garis laki-laki (nasab) dan dua lagi dari luar kerabat, yaitu karena ia yang telah memerdekakan pewaris jika status pewaris sebelumnya adalah sebagai budak dia:

  1. ابن – Anak kandung laki-laki
  2. ابن ابن – Cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya kebawah
  3. أخ شقيف – Saudara laki-laki sekandung
  4. أخ لأب – Saudara laki-laki sebapak
  5. ابن أخ شقيف – Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
  6. ابن أخ لأب – Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak
  7. عم شقيق – Paman sekandung
  8. عم لأب – Paman sebapak
  9. ابن عم شقيق – Sepupu laki-laki dari paman sekandung
  10. ابن عم لأب – Sepupu laki-laki dari paman sebapak
  11. المعتق – Laki-laki yang memerdekakan budak
  12. المعتقة – Perempuan yang memerdekakan budak

Kedua, yaitu kelompok ahli waris yang pertama kali diberi bagian harta warisan. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ secara tetap. Mereka berjumlah tujuh orang, yaitu:

  1. زوج – Suami
  2. زوجة – Istri
  3. أم – Ibu
  4. أم أم – Nenek (dari ibu)
  5. أم أب – Nenek (dari bapak)
  6. أخ لأم – Saudara laki-laki seibu
  7. أخت لأم – Saudara perempuan seibu

Ketiga, yaitu kelompok ahli waris yang pada kondisi tertentu bisa menjadi ahli fardlu atau bisa juga menjadi ashabah, hal itu tergantung dengan kondisi yang menjadi syarat utamanya. Mereka adalah:

  1. بنت – Anak kandung perempuan
  2. بنت ابن – Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya kebawah
  3. أخت شقيق – Saudara perempuan sekandung
  4. أخت لأب – Saudara perempuan sebapak

Keempat, yaitu kelompok ahli waris yang pada kondisi tertentu bisa menjadi ahli fardlu, bisa juga menjadi ashabah, dan bisa juga sebagai gabungan dari keduanya, yaitu sebagai ahli fardlu dan ashabah secara sekaligus dalam satu waktu, hal itu tergantung dengan kondisi yang menjadi syarat utamanya. Hal ini terjadi karena semua ahli waris dari kelompok ahli fardlu yang ada sudah menerima bagiannya, namun masih ada harta waris yang tersisa, sedangkan disana tidak ada ashabah yang lain, maka sisanya diberikan kepada kelompok ini. Mereka adalah:

  1. أب – Bapak
  2. أبو ألأب – Kakek (dari bapak)