ZAKAT

Definisi

  • Lughoh: pembersih/suci, tumbuh, berkembang (secara fisik maupun non fisik).
  • Istilah: harta yang dikeluarkan seorang muslim, yang menjadi hak Allah ta’ala, disalurkan kepada yang berhak / mustahiq (ditentukan Allah ta’ala), dengan cara tertentu.

Dalil

  • At Taubah (9) : 103
  • An Nisaa (4) : 77
  • Al Baqarah (2) : 3 dan 267
  • Hadits dari Ibnu Abbas riwayat Bukhori : perintah Rasulullah صلی الله عليه وسلم kepada Muadz bin Jabal رضي الله عنه untuk mengajarkan kewajiban seorang muslim secara bertahap, yaitu syahadatain, shalat lima waktu, membayar zakat.
  • Hadits dari Ibnu Abbas riwayat Bukhori dan Muslim : tentang rukun Islam.

Keutamaan Zakat

Bagi Para Muzakki

  • Mendapatkan kebersihan jiwa dari sifat pelit maupun lebih pelit.
  • Mensucikan harta dari hak orang lain.
  • Mengembangkan harta baik fisik maupun non fisik.
  • Menumbuhkan jiwa tanggung jawab.

Bagi Para Mustahiq

  • Menumpas sifat iri hati.
  • Memenuhi kebutuhan.
  • Membangun motivasi.

Bagi Masyarakat Umum

  • Berkurangnya kriminalitas.
  • Meningkatnya stabilitas keamanan.

Syarat Muzakki

  • Beragama Islam.
  • Merdeka (bukan budak).
  • Dalam hartanya ada nishab.

Mustahiq [At Taubah (9) : 60]

  • Faqir
  • Miskin
  • Amil zakat
  • Muallaf (baru masuk Islam)
  • Gharimin (terlilit hutang)
  • Budak sahaya
  • Pejuang di jalan Allah
  • Ibnu sabil (musafir)

Kriteria Harta Wajib Zakat

  • Kepemilikan penuh
  • Berkembang (harta simpanan)
  • Bebas dari utang (yang jatuh tempo)
  • Dari sumber yang halal
  • Mencapai nishab
  • Mencapai haul hijri

Jenis-jenis Zakat

Emas & Perak

  • Termasuk semua benda yang difungsikan seperti emas dan perak seperti uang.
  • Nishab emas = 20 dinar.
  • Nishab perak = 200 dirham.
  • 1 dinar = 4.25 gr emas = ± Rp 420.000
  • Zakatnya = 2.5 %.

Perdagangan / Perniagaan

  • Dihitung dari modal barang yang akan dijual (aktiva lancar).
  • Nishab = 20 dinar emas.
  • Zakatnya = 2.5 %.

Pertanian / Perkebunan / Penggemukan Hewan

  • Menurut Imam Abu Hanifah adalah segala macam pertanian.
  • Menurut Imam Syafii hanya pertanian makanan pokok: beras, jagung, gandum, dll.
  • Proses penggemukan hewan sama dengan pertanian: membeli bibit, lalu digemukkan, lalu diambil dagingnya.
  • Nishab = 653 kg gabah kering.
  • Harga gabah kering = Rp 3800 per-kg.
  • Zakatnya = 5% (sawah irigasi); 10% (sawah tadah hujan).

Peternakan Hewan

  • Pengembangbiakan hewan.
  • Nishab kambing, domba, qibas, dll = 40 ekor; zakatnya 1 ekor (1-2 tahun).
  • Nishab sapi, kerbau = 30 ekor; zakatnya 1 ekor (1-2 tahun).
  • Nishab unta = 5 ekor; zakatnya1 ekor (2-3 tahun).
  • Kuda tidak ada zakatnya menurut jumhur ulama.

Rikaz / Harta Temuan / Hadiah

  • Nishab = 20 dinar emas.
  • Zakatnya = 20 %.

Harta Mustaghilat (Penyewaan barang & jasa)

  • Nishab = 20 dinar emas.
  • Zakatnya = 2.5 %.

 

ZAKAT PROFESI

Zakat profesi adalah pendapat (fatwa) ulama mutaakhirin (kontemporer) seperti Dr. Yusuf Al-Qardhawi dan Syaikh Muhammad Al-Ghazali dan bukan merupakan pendapat (fatwa) para salafush shaleh. Selain untuk meringankan beban mengeluarkan zakat dalam jumlah besar, juga diharapkan bisa menjadi motivasi untuk menghilangkan penyakit hati seperti pelit, dsb. Zakat ini terkena kepada gaji, upah, honor, dan semisalnya. Zakat profesi ini tidak menghapuskan zakat terhadap harta simpanan (emas, perak, uang, dst).

Berikut ini adalah dalil yang digunakan ulama yang memfatwakannya.

  • Al Baqarah (2) : 267
  • Keumuman sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم “Setiap Muslim harus mengeluarkan sedekah”.
  • Kisah yang diriwayatkan Abu ‘Abid Ibn Salim bahwa Ibnu Abbas رضي الله عنه ditanya tentang seseorang yang menginvestasikan harta, beliau menjawab “Dia harus membayar zakatnya ketika tiba saat pengeluaran.”
  • Kisah yang menceritakan bahwa Ibnu Mas’ud رضي الله عنه mengambil zakat dari upah yang dibayarkannya kepada orang lain.
  • Kisah yang diriwayatkan Imam Malik bahwa Muawiyah رضي الله عنه mengambil zakat dari yang diberikan.
  • Kisah yang menceritakan bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika memberikan gaji kepada pegawainya, ia mengambil zakat darinya, dan ketika mengembalikan harta orang yang dizhalimi beliau juga mengambil zakatnya.

Penentuan Zakat Profesi

Penentuan zakat profesi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Untuk gaji, upah, dan sejenisnya maka nishab ditentukan dari jumlah pendapatan bersih (yaitu setelah dikurangi pajak, jaminan sosial dan semisalnya).
  • Untuk upah, honor kerja bebas dan sejenisnya, maka ditentukan setelah dikurangi pengeluaran pokok saat pelaksanaan usaha seperti biaya sewa tempat, listrik, langganan telpon, dst.
  • Nishab = 20 dinar emas, karena biasanya upah berupa uang.
  • Zakatnya = 2.5 %.

Waktu Pembayaran

  • Kondisi pertama, zakat dikeluarkan setiap bulanapabila gaji yang diterima selama setahun telah mencapai nishab.
  • Kondisi kedua, untuk para profesionalis yang mendapatkan upah berdasarkan pekerjaan, order, dst. maka bisa menentukan waktunya, misalnya setiap minggu atau bulan.
  • Kondisi ketiga, untuk para pekerja bebas seperti dokter bisa menggunakan catatan pendapatannya dan menunda pembayaran hingga akhir tahun.

 

ZAKAT PERUSAHAAN

  • Zakat ini juga merupakan fatwa ulama mutaakhirin seperti Dr. Wahbah Az-Zuhaily dan Dr. Mustafa Ahmad Zarga, yaitu mengenai Islam mengakui adanya syakhsyiyah hukmiyah atau i’tibariah (badan hukum).
  • Zakat ini diqiyaskan kepada zakat perdagangan.
  • Zakat dihitung dari apa yang dimiliki perusahaan setelah dikurangi utang dan kewajiban-kewajiban lainnya atau yang biasa disebut NET ASSET.
  • Nishab = 20 dinar emas
  • Zakatnya = 2.5 %.

Dalil penentuan zakat perusahaan adalah:

  • Al Baqarah (2) : 267
  • At Taubah (9) : 103
  • Qiyas berdasarkan hadits dari Anas bin Malik رضي الله عنه riwayat Bukhari mengenai surat Abu Bakkar رضي الله عنه kepadanya yang berisikan pesan tentang zakat binatang ternak yang ada unsur syarikat didalamnya.

 

MASHORIF ZAKAT

Definisi

  • Lughoh : Mashorif merupakan jama’ dari mashrof yang berarti wadah, tempat keluar / pengeluaran.
  • Istilah : adalah seorang muslim dalam golongan tertentu (dari 8 golongan) yang menjadi wadah pengeluaran zakat.
  • Yaitu para mustahiq sesuai firman Allah di surat At Taubah (9) : 60.

Berikut ini adalah kriteria yang harus dipenuhi oleh masing-masing golongan mashorif zakat.

1. Faqir, yaitu orang yang tidak mampu memenuhi atau menutup kebutuhan pokoknya, seperti untuk makanan dsb.

  1. Tua renta.
  2. Cacat fisik.
  3. Cacat mental.
  4. Tidak malas.
  5. Tidak berperilaku boros.

2. Miskin, yaitu orang yang hanya bisa memenuhi sebagian kebutuhan pokoknya. Biasanya memiliki pekerjaan tetapi hasilnya tidak mencukupi.

  1. Tidak malas.
  2. Menjaga kehormatan.
  3. Tidak berperilaku boros.

3. Amil / Pengelola Zakat, yaitu seorang muslim dan baligh yang mampu terlibat dalam pengelolaan zakat.

  1. Memiliki fisik yang sehat dan kuat.
  2. Memiliki keahlian seperti ilmu syariah, akuntansi, sosial, dsb.
  3. Sanggup memegang amanat dan berlaku jujur.
  4. Siap bekerja keras.
  5. Tidak menerima imbalan dalam bentuk hadiah atau lainnya.

4. Muallaf Baru, yaitu mereka yang masih baru mengenal dan memeluk Islam.

  1. Seseorang yang sudah dekat dengan ajaran Islam dan masyarakat muslim, dan diharapkan menjadi pemeluk Islam.
  2. Seseorang yang masih baru masuk Islam dan perlu dikenalkan dengan umat Islam.
  3. Masyarakat muslim di daerah minus agar tidak terpengaruh ajaran non muslim.

5. Gharimun / Terbebani Utang, yaitu orang yang terbebani denda / utang demi kemaslahatan umat, ataupun untuk kebutuhan pribadi  yang digunakan untuk kepentingan pokok.

  1. Beban utang yang ditanggung adalah untuk kebutuhan pokok dirinya atau tanggungannya.
  2. Beban utang menyangkut kepentingan pokok umat baik fisik maupun non fisik.
  3. Terbukti tidak mampu melunasinya dengan biaya pribadi.

6. Budak Sahaya, saat ini tidak ada lagi perbudakan yang legal secara syar’i.

7. Pejuang di jalan Allah, yaitu orang yang mengerahkan waktu, tenaga, harta, pikiran, bahkan jiwa raga untuk pekerjaan mencari ridha Allah ta’ala.

  1. Melakukan usaha maksimal dalam bidangnya.
  2. Motivasi berdasarkan kepentingan Islam, bukan pribadi.
  3. Tidak memiliki dana untuk pekerjaan tersebut.
  4. Manfaat konkrit akan kembali kepada masyarakat.

8. Ibnu Sabil, atau musafir yaitu orang yang melakukan perjalanan dengan tujuan mulia.

  1. Tidak membawa bekal, ataupun habis di tengah perjalanan.
  2. Motivasi berdasarkan hal yang mulia, bukan maksiat.

=================================

Amil Zakat

  1. Harus memahami seluk-beluk zakat.
  2. Menjaga nama baik pekerjaannya.
  3. Menjauhi syubhat.

Mawani’ Sharfuz Zakat (penghalang zakat)

  1. Memiliki kekayaan.
  2. Kemampuan berusaha yang mencukupi.
  3. Tidak beragama Islam.
  4. Orang-orang yang menjadi tanggungan (‘iyal) dari hubungan darah atau nikah.
  5. Termasuk sulalah / keturunan Nabi صلی الله عليه وسلم.

Faktor Sukses Pengelolaan Zakat

  1. Memperluas sumber-sumber zakat.
  2. Manajerial yang efektif dan profesional.
  3. Distribusi zakat yang proporsional.
  4. Menggairahkan pengamalan Islam.

Efektifitas Manajerial Zakat

  1. Pengambilan dan penyaluran dalam bentuk uang.
  2. Pengangkatan amil yang tepat.
  3. Memperketat pembiayaan / pengeluaran.

Distribusi Proporsional

  1. Menggunakan sistem distrik / wilayah.
  2. Melakukan survei kebenaran mustahiq.
  3. Berlaku adil pada tiap asnaf / golongan.
This entry was posted in Fiqih. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>