RSS
 

Leasing (dalam pandangan Islam)

01 Mar

“Artikel berikut dari whatsapp group Halaqoh Wirausaha 3”

Belajar lagi yuk….
Kita sering mendengar kata-kata “LEASING”, tp mungkin masih banyak yg blm tau apa itu leasing sebenarnya…

Sewa beli (leasing): perjanjian sewa menyewa,biasanya objeknya adalah tanah, gedung, peralatan modal, mobil dan lain sebagainya, selama jangka waktu tertentu dengan pembayaran sewa berkala, yang harga sewanya di atas harga sewa biasa; dan umumnya pada akhir masa sewa, penyewa diberikan opsi untuk untuk memperbaharui akad sewa atau membeli barang sewa tersebut (Al Syaikh, Ijarah Muntahiyah bittamlik, hal 63).

Prinsip leasing yang diharamkan : terdapat dua akad yang berbeda dalam satu akad terhadap sebuah barang dalam satu jangka waktu.


Contoh leasing :

Bila harga sebuah barang 100.000 dan sewa barang perbulan biasanya hanya 10.000 (Maka dalam akad sewa beli) harga sewanya menjadi 20.000 harga sewa ini sengaja dinaikkan karena sesungguhnya dimaksudkan untuk menutupi harga jual barang. Jika penyewa pada bulan terakhir akad sewa tidak dapat melunasi sewa maka barang ditarik oleh pemilik barang dan dia tidak akan mengembalikan selisih harga sewa normal dengan harga sewa pada akad leasing, ini karena dianggap penyewa telah menggunakan barang sewaan.

Hukum haramnya sewa beli (leasing) :

1. Akad ini merupakan gabungan dua akad (Nabi melarang menggabungkan dua akad pada satu akad dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Bahwa Nabi melarang jual-beli dalam satu jual-beli. HR Nasa’i. Derajat hadis ini dinyatakan shaih oleh Al-Albani) yang berbeda dan bertentangan pada satu barang; akad beli mengharuskan perpindahan barang dan manfaatnya ke tangan pembeli maka pada saat itu tidak sah menyewakannya ke pembeli karena barang telah ia miliki, sementara akad sewa hanya mengharuskan perpindahan manfaat barang ke tangan penyewa, bukan perpindahan kepemilikan.

Juga akad beli mengharuskan tanggungan barang yang dijual dan fungsinya berpindah ke tangan pembeli, jika barang raib/ lenyap, maka pembelilah yang menanggung kerugian, bukan penjual. Sedangkan dalam akad sewa, tanggungan barang berada pada pemilik barang (bukan penyewa), raibnya barang ditanggung oleh pemilik, kecuali terdapat kelalaian dari pihak penyewa.
2. Harga sewa per tahun atau per bulan, bila diihitung dapat menutupi harga jual barang, padahal penjual menganggapnya sewa, hal ini bertujuan agar pembeli (penyewa) tidak dapat menjual ke pihak lain.
Prinsip leasing yang dibolehkan :

1. Terdapat dua akad yang terpisah satu dengan lainnya dalam bentuk waktu, dimana akad jual dilakukan setelah akad sewa berakhir, atau di awal akad sewa akan tetapi hanya disebutkan janji untuk memindahkan kepemilikan barang sewaan kepada penyewa setelah akad sewa berakhir.

2. Akad sewa diterapkan sesuai dengan sewa yang dibenarkan syariat dan bukan sekedar kedok (untuk penjualan secara kredit).

3. Tanggungan barang sewaan berada pada pemilik barang sewaan bukan pihak penyewa. Dengan demikian pemilik barang yang menanggung segala kerusakan barang, kecuali terbukti ada unsur kelalaian dari pihak penyewa. Demikian juga penyewa tidak menanggung biaya apapun jika barang sama sekali tidak dapat digunakannya.

4. Jika barang mesti diasuransikan maka harus dilakukan asuransi yang Islami dan biaya asuransi ditanggung oleh pihak pemilik barang sewaan.

5. Selama masa sewa, wajib diterapkan hukum-hukum sewa yang dijelaskan dalam fikih Islam dan setelah selesai akad sewa baru boleh diterapkan hukum-hukum jual-beli pada saat pemindahan kepemilikan barang.

6. Biaya pemeliharaan barang selama masa sewa ditanggung oleh pemilik barang bukan penyewa, kecuali biaya operasional (seperti bensin dan oli, jika barang sewa beli termasuk mobil).

Keterangan selengkapnya silahkan baca di buku Harta Haram Muamalat Kontemporer oleh Ust. Erwandi Tarmizi mulai hal 417

 
No Comments

Posted in Fiqih, ISLAM

 

Leave a Reply