Lobi & Penghinaan Quraisy

Sikap Kaum Musyrikin dan Sikap Abu Thalib

  • Tidak seorangpun yang berani melakukan perbuatan tak senonoh dan hinadina terhadap beliau صلی الله عليه وسلم selain manusia-manusia kerdil dan picik
  • Kunjungan kaum musyrikin pada Abu Thalib
    1. Abu Thalib berkata kepada kaum musyrikin dengan tutur kata yang lembut dan membalasnya dengan cara yang halus dan baik, sehingga mereka pun akhirnya undur diri.
    2. Kaum musyirikin mengultimatum Abu Thalib, Nabi صلی الله عليه وسلم berkata “wahai pamanku! Demi Allah! andaikata mereka letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan agama ini -hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya- niscaya aku tidak akan meninggalkannya”.
    3. Mereka membawa ‘Imarah bin al-Walid bin al-Mughirah untuk ditukar dengan nyawa Nabi صلی الله عليه وسلم, tetapi ditolak oleh Abu Tholib.

Pelecehan Kaum Musyrikin terhadap Rasulullah صلی الله عليه وسلم

  • Allah Ta’ala menurunkan ayat 3, surat al-Kautsar berkaitan dengan penghinaan Abu Lahab ketika Abdullah (putra Nabi) wafat.
  • Isteri Abu Lahab, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah saudara perempuan Abu Sufyan, adalah sosok perempuan yang judes. Lisannya selalu dijulurkan untuk mencaci beliau, mengarang berita dusta dan berbagai isu, menyulutkan api fitnah serta mengobarkan perang membabibuta terhadap Nabi صلی الله عليه وسلم.
  • ‘Uqbah bin Abi Mu’ith menumpahkan kotoran onta di punggung diantara dua bahu Nabi صلی الله عليه وسلم
  • Ummayyah bin Khalaf; bila melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, dia langsung mengumpat dan mencelanya, sehingga turun ayat: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat (al-Humazah) lagi pencela”. (Q.S. 104/al-Humazah: 1)
  • Ubay bin Khalaf mencaci dan mencemooh Ummayyah serta memintanya agar meludah ke wajah Rasulullah صلی الله عليه وسلم.
  • Al-Akhnas bin Syuraiq at-Tsaqafy yang selalu mengerjai Rasulullah صلی الله عليه وسلم, sehingga turun ayat Q.S. 68/al-Qalam: 10-13.
  • Abu Jahal, terkadang dia datang kepada Rasulullah dan mendengarkan al-Qur’an, kemudian berlalu namun hal itu tidak membuatnya beriman, tunduk, sopan apalagi takut. Bahkan dia menyakiti Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan perkataannya, menghadang jalan Allah, berlalu lalang dengan angkuh memproklamirkan apa yang diperbuatnya dan bangga dengan kejahatan yang dilakukannya tersebut seakan sesuatu yang enteng saja, kemudian turun ayat: QS. 75/al-Qiyaamah: 31- dst, serta Q.S.96/al-‘Alaq: 17-18.