Posisi Bangsa Arab Dan Kaumnya

Posisi Bangsa Arab

Menurut bahasa, ‘Arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Karena letak geografisnya seperti itu pula, sebelah utara dan selatan dari jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar-menukar perniagaan, peradaban, agama dan seni.

Kaum-kaum Arab

Ditilik dari silsilah keturunan dan cikal-bakalnya, para sejarawan membagi kaum-kaum Arab menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Arab Bâ-idah, yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sudah punah dan tidak mungkin sejarahnya bisa dilacak secara rinci dan komplit, seperti ‘Ad, Tsamud, Thasm, Judais, ‘Imlaq dan lain-lainnya.
  • Arab ‘آAribah / Arab Qahthaniyah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya’rib bin Yasyjub bin Qahthan.
  • Arab Musta’ribah / Arab ‘Adnaniyah. yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma’il.


Arab ‘آAribah / Arab Qahthaniyah (YAMAN)

  • Kabilah Himyar
    • Zaid Al-Jumhur
    • Qudhâ’ah
    • Sakâsik
  • Kabilah Kahlan
    • Hamadan
    • Anmar
    • Thayyi’ – pindah ke Aja / Salma
    • Madzhaj
    • Kindah – pindah ke Bahrain / Najd
    • Lakham – pindah ke timur
    • Judzam – pindah ke timur
    • Azd – pindah ke Hijaz
      • Aus – pindah ke Hijaz
      • Khazraj – pindah ke Hijaz
    • Jafnah – bapak raja-raja Al-Ghassasinah


Arab Musta’ribah / Arab ‘Adnaniyah

  • Ibrahim ‘alaihissalam
    • Ismail ‘alaihissalam (buah dari Hajar; budaknya Sarah, putri Fir’aun)
      • Nabith / Nabayuth
      • Qaidar (kakek moyang ke 21 dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam)
      • Adba’il
      • Mibsyam
      • Misyma’
      • Duma
      • Misya
      • Hidad
      • Yutma
      • Yathur
      • Nafis
      • Qaidaman
    • Ishaq ‘alaihissalam (buah dari Sarah)
      • Para Nabi dan Rasul dari bangsa Yahudi


Fir-‘aun (sebutan bagi penguasa Mesir) kala itu berupaya untuk melakukan tipu daya dan niat buruk terhadap istri Ibrahim, Sarah. Namun Allah membalas tipu dayanya (senjata makan tuan). Dan tersadarlah Fir’aun itu betapa kedekatan hubungan Sarah dengan Allah hingga akhirnya ia jadikan anaknya,** Hajar sebagai abdinya (Sarah). Hal itu dia lakukan sebagai tanda pengakuannya terhadap keutamaannya, kemudian dia (Hajar) dikawinkan oleh Sarah dengan Ibrahim.

** Menurut kisah yang sudah banyak dikenal, Hajar adalah seorang budak wanita. Tetapi seorang penulis kenamaan, al-‘Allamah al-Qadhy Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury telah melakukan penelitian secara seksama bahwa Hajar adalah seorang wanita merdeka, dan dia adalah putri Fir’aun sendiri. Lihat buku “Rahmatun lil’alamin, 2/3637 dan juga buku “Tarikh Ibni Khaldun”, 2/1/77.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.